21 November 2012

PCNU Nganjuk Bentuk Tim Investigasi MTA

Nganjuk, NU Online
Mulai provokatif dan vulgarnya gerakan yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) di wilayah Kabupaten Nganjuk, mendorong PCNU Nganjuk memutuskan untuk membentuk Tim Investigasi. Tindakan ini dilakukan menyusul semakin santernya desakan dari akar rumput nahdliyin kepada PCNU Nganjuk agar melakukan tindakan nyata guna dihentikannya segala aktifitas kelompok tersebut.

PCNU sendiri belum dapat mengambil sikap atas desakan tersebut karena belum mendapatkan fakta-fakta yang cukup dan kajian yang mendalam atas isi ajaran maupun praktek yang dilakukan oleh MTA.

“Jika fakta-fakta dan kajian atas ajaran dan praktek keberagamaan yang yang dilakukan oleh MTA menunjukkan bahwa kelompok tersebut sesat atau memusuhi NU, tentu jam’iyah kita tidak bisa tinggal diam,” papar KH Ahmad Baghowi, Rais Syuriyah PCNU Nganjuk. Namun ia juga mengingatkan, bahwa jika tidak memusuhi jama’ah dan tidak mengganggu aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah, kelompok manapun harus diperlakukan dengan baik dan saling bekerjasama antar-jam’iyah Islamiyah agar Islam benar-benar menjadi kuat, sebagaimana wasiat yang pernah diberikan oleh Hadratus Syaikh KHM Hasyim Asy’ari.

Di sisi lain, Ketua PCNU Nganjuk KH M Hammam Ghozali menyatakan bahwa NU sebagai organisasi besar harus bisa bersikap arif namun tegas. Jika yang terjadi adalah perbedaan-perbedaan di permukaan tanpa saling menyakiti, tentu mereka harus diberlakukan dengan cara pandang fastabiqul khairat. Namun jika sudah mengganggu dan membuat keresahan di kalangan nahdliyin¸ ”Warga kita harus mendapat perlindungan, baik dari sisi aqidah maupun lingkungan sosialnya,” tambahnya.

Menurut Abdul Wahid Badrus, Mustasyar PCNU Nganjuk yang juga wakil bupati dan ketua Komite Intelijen Daerah (Kominda) Nganjuk, keresahan ini sudah nampak nyata. Tidak hanya di kalangan warga nahdliyin, namun juga di kalangan lain karena wilayah ekspansi kelompok tersebut akhir-akhir ini lebih bertumpu ke wilayah pedesaan. Jika keresahan ini berlanjut, bisa menimbulkan potensi chaos di akar rumput. Padahal, sebentar lagi Nganjuk akan memasuki tahapan Pemilukada.

”Bisa mengganggu stabilitas keamanan, sosial dan politik yang tentu dapat berimbas negatif pada pelaksanaan Pemilukada 2012 ini,” tandasnya.

Perintah pembentukan tim investigasi tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi PCNU Nganjuk dengan lembaga dan lajnah di bawahnya pada hari Ahad (23/03/2012) di Aula PCNU Nganjuk. Sebagai Tim Pelaksana, ditunjuk PC Lakpesdam NU Nganjuk yang dibantu oleh PC LBM NU Nganjuk dan PC LPBH NU Nganjuk. Hasil dari investigasi itu nantinya akan menjadi bahan utama dalam rapat gabungan Syuriyah, Mustasyar dan Tanfidziyah untuk menetukan sikap atas gerakan tersebut.

Direktur PC Lakpesdam NU Nganjuk, M. Agus Rahman Hakim menyatakan bahwa kelompok ini sebenarnya sudah cukup lama berada di Nganjuk. Namun jika sekarang ini menggeliat dan menebar keresahan, patut diwaspadai kemungkinan adanya faktor-faktor non keagamaan yang mungkin hadir di belakangnya.

”Semua kemungkinan perlu diperhatikan dengan seksama. Karena itulah yang kita cari nanti bukan hanya sekedar faktor ajaran dan praktek keberagamaan yang mereka jalani selama ini saja, tetapi lebih luas dari itu,” tutur Komisioner KPU Kabupaten Nganjuk itu.

Karena itu informasi dan masukan dari pihak manapun akan diterima oleh tim dengan tangan terbuka. ”Bisa disampaikan secara lisan maupun tertulis ke sekretariat PCNU Nganjuk, maupun melalui email ke lakpesdamnunganjuk@gmail.com,” tambahnya.

Untuk diketahui, ketegangan mulai terjadi di kalangan akar rumput setelah salah satu anggota MTA di desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Nganjuk, sejak Januari 2012 lalu dengan arogan dan tanpa koordinasi dengan aparat desa dan warga sekitar mulai mengadakan pengajian rutin mingguan di rumahnya dengan peserta pengajian mencapai ratusan orang dari berbagai wilayah di Nganjuk dan sekitarnya.

 Setelah berkali-kali diingatkan oleh ketua RT, RW maupun kepala desa mereka tetap tidak menggubris, maka pada pertengahan Maret lalu ratusan warga masyarakat di Kecamatan Pace melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolsek dan Kantor Kecamatan Pace, Nganjuk, menuntut dibubarkannya pengajian MTA di desa Kepanjen dan desa manapun di wilayah kecamatan Pace dan kabupaten Nganjuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar