15 September 2012

Sesaji Dalam Pernikahan Jawa



Masyarakat Jawa masih mengenal “sesaji”. Bahkan sampai sekarang, masih ada banyak masyarakat Jawa yang meneruskan tradisi sesaji. Namun, yang telah menjadi tradisi bagi masyarakat Jawa ini, oleh masyarakat modern dianggap sebagai klenik, mistik, irasional, dan segala jenis sebutan lain yang terkesan negatif terhadap tradisi sesaji. Hanya sedikit yang melihatnya sebagai manifestasi bentuk lain dari doa. Dalam kata lain, sesaji adalah wujud dari sistem religi masyarakat Jawa.
Sesaji Dalam Pernikahan Jawa

Ada bermacam-macam sesaji dalam kehidupan masyarakat Jawa, salah satunya adalah sesaji dalam hajatan pernikahan. Selain itu, ada pula sesaji untuk kematian dan kelahiran, yang dikenal dalam istilah siklus kehidupan manusia Jawa, yaitu: Metu-Manten-Mati (lahir-pernikahan-kematian). Dalam mengadakan acara mantu -hajatan pernikahan- masyarakat Jawa mengenal adanya syarat dan sesaji tertentu.
Tradisi kuno masyarakat Jawa memiliki tata cara lengkap dalam pernikahan; sebelum pernikahan, hari pelaksanaan, dan sesudah pernikahan. Meskipun zaman semakin berkembang, namun kebiasaan untuk tetap mempertahankan tradisi tetap dipegang kuat. Setiap sesaji memiliki maknanya sendiri-sendiri. Bahkan cara pembuatan dan penyajiannya pun berbeda-beda. Kekayaan makna dalam sesaji ini menggambarkan roda kehidupan, lika-liku dan naik turun kehidupan manusia, dari lahir hingga kematian.
Ada 4 jenis sesaji sebelum melaksanakan hajatan mantu. Adapaun sesaji tersebut antara lain :
Sesaji Patenan
Sesaji Patenan atau biasa disebut sajen kobongan diletakkan didalam kamar tengah. Adapun isi Sajen Patenan antara lain daun keluwih, apa-apa ilalang, dadap srep, kluwak, kara, biji kemiri yang gepak jendul, benda, kisi, cermin, sisir, suri, munyak telon -yang terbuat dari bungan melati, kenanga dan kantil-, tikar yang baru, kendi, damar, cuplak, jajan, minyak sunthi langit, gula kelapa satu tangkep, beras satu kati, pisang ayu, sirih ayu, gambir, jambe dengan tangkalnya, kembang boreh, kemenyan, tebu, bubur merah, bubur putih, bubur baro-baro, kepala kerbau -dapat diganti dengan bagian-bagian kerbau seperlunya saja-, jadah bakar, ayam yang masih hidup, pindang antep, kalak -ikan bakar yang ditusuk tanpa bumbu-, serta uang rong wang seperempat 19,5 sen -untuk zaman sekarang uang jumlahnya bisa disesuaikan menurut kemauan kita-.
Sesaji Pedaringan
Sesaji Pedaringan ini jenisnya hampir sama dengan Sesaji Patenan, hanya saja ada perbedaan sedikit.Perbedaannya dalam Sesaji Pedaringan tidak terdapat kalak dan pindang antep.
Sesaji Pendheman
Yang dimaksud dengan Sesaji Pendheman adalah sesaji yang ditimbun. Sesaji Pendheman dimaksudkan untuk menolak hal-hal jahat seperti guna-guna atau tenung. Empluk atau tempat sesaji untuk Sesaji Pendheman itu berisi ikan asin -gereh petek-, kacang hijau, kedelai, telur ayam kampung mentah, biji kemiri, gantal -gulungan daun sirih-, minyak dan air yang dicampur dengan persentase pencampurannya masing-masing setengah botol. Setelah semuanya sudah komplit maka sesaji tersebut ditanam di muka pintu utama, di muka dapur dan perempatan jalan.
Sesaji Buwangan
Yang dimaksud dengan Sesaji Buwangan adalah sesaji yang dibuang. Adapun isi Sesaji Buwangan adalah ikan asin -gereh petek-, kedelai, kacang hijau, kemiri, telur ayam, gantal -gulungan daun sirih-, minyak dan air yang dicampur dengan persentase pencampurannya masing-masing setengah botol, kembang boreh, bubur merah, bubur putih, baro-baro -bubur putih dengan bubur merah ditengahnya, gecok mentah, semuanya diletakkan di patanen -tempat tidur-, gandok, sebelah timur atau barat gedung -rumah-, semua pintu, pojok rumah, sumur, kamar mandi, toilet, bak sampah, tempat gamelan, perempatan jalan, sungai dan pintu halaman.
Masyarakat Jawa sampai sekarang masih meneruskan legalitas pernikahan. Masalahnya setelah legalitas formal dipenuhi, yang kemudian diutamakan adalah resepsi di gedung. Seolah pesta di gedung merupakan puncak dari yang disebut pernikahan. Religiusitas pernikahan seakan bergeser pada harta kekayaan. Jika dilihat pada pijakan hidup masyarakat Jawa yang terdiri dari: dharma (kewajiban), harta (kekayaan), kama (asmara), dan moksa (hilang), upacara pernikahan zaman sekarang, seakan lebih kuat berorientasi pada harta dan melupakan dharma. Mungkin saja, pernikahan zaman sekarang merupakan representasi dari kehidupan modern yang serba wadag (raga), materialistis, instan dan tidak menganggap penting religi lokal.
Memang sulit dihindari, karena saat ini pada setiap upacara pernikahan hampir selalu ditemukan resepsi. Masyarakat Jawa dalam resepsi pernikahan seperti kembali menghidupkan kebiasaan basa-basi, yang diwadahi dalam gebyar. Namun, itu sesungguhnya menyimpan beragam persoalan dari segi ekonomi, budaya, dan religi. Dari segi ekonomi bisa dilihat pada jumlah biaya dan sumber biaya. Lalu, apakah jumlah biaya yang dikeluarkan minimal bisa impas dari sumbangan atau kado yang diterima. Dilihat dari segi budaya, resepsi pernikahan lebih pada representasi gaya hidup masa kini. Sedangkan dari segi religi, pernikahan yang dilakukan telah menghilangkan atau mengabaikan tradisi sesaji masyarakat Jawa.
Mungkin saja yang menyebabkan religi lokal jawa ini dikesampingkan adalah karena masyarakat Jawa sekarang ini tidak mengenal sesaji, atau kalaupun mengenal hanya sepotong-potong. Tradisi sesaji sepertinya terlihat dan terkesan ribet dan tidak praktis, serta bertentangan dengan budaya instan masyarakat saat ini. Padahal tidak demikian, karena bahan-bahan dalam sesaji dapat dengan mudah ditemukan di sekitar kita, serta dengan praktis dapat pula disiapkan. Jadi, marilah kita melihat kembali representasi sesaji dalam pernikahan adat Jawa, karena selain merupakan wujud lain dari doa syukur dan permohonan, kita  juga dapat ikut serta melestarikan kebudayaan Jawa.   Sesaji Dalam Pernikahan Jawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar